Poso, 20 Juli 2026 Rangkaian kegiatan Kemitraan Emansipatoris Pemuda PGI–PKN resmi dimulai di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Mission 21, dan Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) sebagai tuan rumah ini diikuti oleh pemuda dari berbagai gereja dan lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia.
Hari pertama diawali dengan sesi Perkenalan dan Orientasi (Pradaya). Dalam suasana yang hangat, para peserta saling memperkenalkan diri, menyampaikan harapan serta kekhawatiran selama mengikuti kegiatan, sekaligus menerima penjelasan mengenai rangkaian program dan pembagian tugas peserta. Sesi ini menjadi awal yang baik untuk membangun relasi, rasa saling percaya, dan semangat kebersamaan di antara peserta yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi “Peran Pemuda dalam Dinamika Bergereja dan Penguatan Relasi Kemitraan Emansipatoris PGI–PKN.” Pada sesi ini, peserta diajak merefleksikan peran strategis pemuda sebagai agen perubahan dalam kehidupan bergereja dan bermasyarakat, sekaligus memperkuat kemitraan yang setara, inklusif, dan berorientasi pada pelayanan bersama.
Memasuki sesi siang, peserta mengikuti materi “Religiusitas dan Budaya di Poso.” Melalui sesi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Kabupaten Poso yang kaya akan keberagaman. Poso diperkenalkan sebagai wilayah yang tidak hanya memiliki sejarah konflik, tetapi juga menjadi Laboratorium Rekonsiliasi yang menghadirkan banyak pembelajaran tentang perdamaian, toleransi, dan kehidupan bersama di tengah perbedaan. Peserta juga diajak memahami pentingnya keadilan ekologis serta kesadaran terhadap kerentanan bencana sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Suasana kebersamaan semakin terasa melalui sesi Team Building dan Teamwork. Berbagai aktivitas kelompok mendorong peserta untuk membangun komunikasi yang efektif, memperkuat kerja sama, serta menumbuhkan rasa saling percaya di tengah keberagaman peserta.Pada malam hari, seluruh peserta kembali ke rumah orang tua asuh untuk berinteraksi langsung dengan keluarga tuan rumah. Momen tersebut menjadi pengalaman berharga dalam mengenal kehidupan masyarakat Poso secara lebih dekat sekaligus mempererat hubungan antarpeserta dengan masyarakat setempat.
Sabdo, peserta dari Generasi Muda Buddhis Indonesia (GEMABUDHI) PC Tangerang Selatan, mengungkapkan bahwa kegiatan hari pertama memberikan pengalaman yang sangat berkesan. Menurutnya, keberagaman yang hadir dalam kegiatan ini menjadi ruang belajar yang nyata untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan.
“Sebagai peserta yang beragama Buddha, saya merasa diterima dengan sangat baik. Melalui kegiatan ini saya belajar bahwa keberagaman bukan menjadi penghalang untuk bekerja sama, melainkan kekuatan untuk membangun persaudaraan dan menghadirkan perdamaian. Pengalaman belajar langsung di Poso memberikan perspektif baru tentang pentingnya rekonsiliasi dan hidup berdampingan dalam keberagaman,” ungkap Sabdo.
Hal senada disampaikan oleh Ryan sebagai ketua PC GEMABUDHI Tangerang Selatan, yang juga merupakan peserta beragama Buddha. Ia menilai bahwa kegiatan ini membuka ruang dialog lintas iman yang hangat dan penuh rasa saling menghormati.
“Hari pertama memberikan kesan yang sangat positif. Kami tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai sejarah dan budaya Poso, tetapi juga merasakan bagaimana nilai-nilai toleransi dan persaudaraan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi bekal untuk membangun kerja sama lintas agama dan memperkuat semangat kebangsaan ketika kembali ke daerah masing-masing,” tutur Ryan.
Melalui rangkaian kegiatan hari pertama, peserta tidak hanya memperoleh wawasan mengenai sejarah dan budaya Tana Poso, tetapi juga memperkuat komitmen untuk membangun persaudaraan lintas iman, semangat rekonsiliasi, serta kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, ekologis, dan kemanusiaan. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari proses pembelajaran bersama yang akan membentuk generasi muda yang mampu menjadi pelopor perdamaian dan penggerak kehidupan masyarakat yang inklusif.