
Poso, 22 Juli 2026 – Peserta kegiatan Live-in Interfaith mengikuti sesi bertajuk “Membangun Kepeloporan dan Perubahan Sosial (1)” yang disampaikan oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Dr. (H.C.) Jacklevyn Frits Manuputty, M.Th. Sesi ini menjadi ruang pembelajaran bagi para peserta untuk memahami peran strategis generasi muda dalam menghadirkan perubahan sosial melalui kolaborasi, dialog, dan aksi nyata di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty menegaskan bahwa perubahan sosial tidak selalu berawal dari kebijakan besar, melainkan dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat melalui gerakan akar rumput (grassroots movement), kolaborasi lintas iman (interfaith collaboration), penguatan komunitas, advokasi kebijakan, serta berbagai aksi nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kepeloporan merupakan keberanian untuk mengambil inisiatif, membangun kepercayaan, dan menggerakkan orang lain menuju tujuan bersama. Generasi muda memiliki posisi yang sangat penting sebagai agen perubahan yang mampu membangun ruang dialog, memperkuat solidaritas, serta menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah keberagaman Indonesia.
Ketua PC GEMABUDDHI Tangerang Selatan, Ryan, menyampaikan apresiasinya atas materi yang diberikan. Menurutnya, sesi ini memberikan inspirasi bagi para pemuda untuk tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi juga menjadi penggerak yang mampu memberikan dampak positif di tengah masyarakat.
“Materi ini mengingatkan kami bahwa kepemimpinan sejati dimulai dari keberanian untuk melayani dan mengambil langkah pertama. Kolaborasi lintas iman menjadi kekuatan yang harus terus dirawat agar generasi muda mampu menghadirkan solusi bagi berbagai persoalan sosial. Saya berharap semangat ini dapat terus dibawa oleh seluruh peserta ketika kembali ke daerah masing-masing,” ujar Ryan.
Sementara itu, Sabdo, perwakilan umat Buddha yang mengikuti kegiatan Live-in Interfaith, mengungkapkan bahwa sesi ini semakin memperkuat keyakinannya akan pentingnya kerja sama lintas iman dalam membangun masyarakat yang damai dan inklusif.
Saya mendapatkan pemahaman bahwa perubahan sosial lahir dari kepedulian dan tindakan nyata. Sebagai umat Buddha, kami diajarkan untuk mengembangkan cinta kasih (mettā), welas asih (karuṇā), serta hidup berdampingan secara harmonis. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat kegiatan ini, yaitu membangun persaudaraan, menghargai keberagaman, dan bersama-sama menjadi pelopor perubahan bagi masyarakat,” tutur Sabdo.
Melalui sesi ini, para peserta diharapkan semakin terdorong untuk menjadi agen perubahan yang mampu membangun kolaborasi lintas iman, memperkuat kehidupan bermasyarakat, serta menghadirkan aksi-aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan sekitar. Semangat kepeloporan yang dibangun dalam kegiatan Live-in Interfaith diharapkan menjadi bekal bagi para pemuda untuk terus merawat persatuan dalam keberagaman serta mewujudkan Indonesia yang damai, adil, dan harmonis.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang agama dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa. Dengan semangat saling menghormati, berdialog, dan bekerja sama, generasi muda diharapkan mampu menjadi pelopor lahirnya perubahan sosial yang berkelanjutan demi Indonesia yang semakin rukun dan bersatu.