
Makassar — Ketua GEMABUDHI Sulawesi Selatan, Enrique Justine Sun, S.Kom., menilai Seminar Nasional “Kolaborasi Lintas Elemen Mewujudkan Sulsel Bebas Narkoba” menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi persoalan narkoba yang semakin kompleks.
Menurut Enrique, persoalan narkoba tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan aparat penegak hukum. Pencegahan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, organisasi kepemudaan, dunia pendidikan, keluarga, hingga masyarakat.
“Narkoba bukan hanya persoalan hukum. Ini persoalan masa depan. Ketika satu anak muda kehilangan masa depannya karena narkoba, yang sebenarnya ikut kita kehilangan adalah keluarga, lingkungan, bahkan bangsa ini,” ujar Enrique.
Ia menegaskan bahwa kolaborasi lintas agama dan lintas elemen masyarakat tidak boleh berhenti pada forum diskusi atau seremoni. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah bagaimana komitmen yang dibangun dalam seminar tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tengah masyarakat.
“Jangan sampai kita hanya ramai berbicara tentang bahaya narkoba ketika berada di dalam ruangan seminar, tetapi setelah keluar dari ruangan ini kita kembali berjalan sendiri-sendiri. Kalau ingin Sulawesi Selatan bebas narkoba, maka gerakannya juga harus bersama-sama,” tegasnya.
Sebagai organisasi kepemudaan Buddha, GEMABUDHI Sulawesi Selatan, lanjut Enrique, memandang generasi muda sebagai salah satu kekuatan utama dalam gerakan pencegahan narkoba. Anak muda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek yang harus dilindungi, tetapi juga harus diberi ruang untuk menjadi bagian dari solusi.
“Generasi muda harus berani mengatakan tidak pada narkoba, tetapi tugas kita bukan hanya menyuruh mereka berkata tidak. Kita juga harus menciptakan lingkungan yang membuat mereka punya alasan untuk memilih masa depan yang lebih baik,” katanya.
Enrique juga menilai pendekatan keagamaan memiliki peran penting dalam membangun ketahanan moral dan mental masyarakat. Nilai-nilai spiritual, menurutnya, harus hadir bukan untuk menghakimi mereka yang pernah terjerumus, melainkan untuk membantu mencegah dan membuka jalan bagi mereka yang ingin kembali menjalani kehidupan secara lebih baik.
“Yang sudah terjerumus jangan kita jauhi. Mereka perlu dibantu untuk bangkit. Yang belum terjerumus harus kita jaga agar tidak pernah sampai ke sana. Di situlah pentingnya keseimbangan antara pencegahan, penindakan, rehabilitasi, dan pendampingan,” jelasnya.
Ia berharap semangat menuju Sulsel Bebas Narkoba 2030 tidak menjadi sekadar slogan, melainkan menjadi target bersama yang dikerjakan secara konsisten.
Sulsel bebas narkoba tidak akan lahir dari satu lembaga, satu agama, atau satu kelompok. Ini harus menjadi kesadaran bersama. Kalau pemerintah bergerak, aparat bergerak, tokoh agama bergerak, organisasi kepemudaan bergerak, keluarga bergerak, dan masyarakat ikut bergerak, maka kita punya kekuatan yang jauh lebih besar untuk memutus mata rantai narkoba