
Jakarta, 26 Juli 2026 — Kepemimpinan yang efektif tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, kemampuan teknis, maupun visi yang besar. Kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi menjadi fondasi penting dalam membentuk pemimpin yang mampu mengambil keputusan secara bijaksana dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Hal tersebut disampaikan Emil Atmajaya dalam sesi bertema “Menciptakan Kepemimpinan Berbasis Kecerdasan Emosional.” Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami pentingnya emotional intelligence sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas kepemimpinan.
Emil menekankan bahwa seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan intelektual. Seorang pemimpin juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali emosi yang muncul, memahami penyebabnya, serta mengelola respons sebelum mengambil tindakan.

“Jika kita tahu sebabnya, kita bisa mengatasi akibatnya,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan dalam sesi tersebut.
Menurut Emil, langkah awal dalam membangun kecerdasan emosional adalah mengembangkan emotional literacy, yakni kemampuan untuk mengenali dan memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan. Kemampuan tersebut penting karena seseorang akan lebih sulit mengelola sesuatu yang tidak mampu ia identifikasi.
Dalam konteks kepemimpinan, kesadaran terhadap emosi menjadi semakin penting karena pemimpin dihadapkan pada berbagai tekanan, konflik, dan situasi yang membutuhkan pengambilan keputusan. Ketidakmampuan mengenali emosi dapat membuat seseorang memberikan respons secara impulsif, sementara kesadaran emosional memungkinkan seseorang mengambil jarak dan memilih respons yang lebih tepat.
Peserta juga diajak memahami bahwa emosi dan perasaan merupakan dua hal yang berbeda. Emosi dapat muncul sebagai respons awal terhadap suatu situasi, sedangkan perasaan dapat berkembang ketika emosi tersebut terus diproses oleh pikiran. Dengan demikian, cara seseorang memaknai sebuah peristiwa turut memengaruhi pengalaman emosional yang dirasakan.
“Change your mind, change your life,” menjadi salah satu prinsip yang ditekankan dalam sesi tersebut. Perubahan cara berpikir dinilai dapat memengaruhi bagaimana seseorang merespons berbagai situasi dan mengelola pengalaman batinnya.
Selain pemahaman konseptual, sesi berlangsung secara interaktif melalui berbagai latihan untuk meningkatkan kesadaran emosional. Peserta diajak merefleksikan emosi yang dirasakan, mengenali pemicunya, serta mempraktikkan latihan pernapasan sebagai salah satu cara untuk mengembalikan kesadaran dan menenangkan diri ketika menghadapi tekanan.
Melalui sesi tersebut, Emil menegaskan bahwa kepemimpinan berbasis kecerdasan emosional bukan berarti menekan atau menghilangkan emosi. Sebaliknya, seorang pemimpin perlu memahami emosinya agar mampu mengelola respons secara lebih sadar dan bertanggung jawab.Kecerdasan emosional pada akhirnya menjadi bagian penting dalam membentuk pemimpin yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam mengelola diri, bijaksana dalam mengambil keputusan, dan mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.Sebab, sebelum memimpin orang lain, seorang pemimpin perlu terlebih dahulu belajar mengenali dan memimpin dirinya sendiri.