GEMABUDHI DPC Tangerang Selatan Teguhkan Peran Pemuda Buddha dalam Merawat Toleransi, Bupati Poso Buka Live-in Interfaith “Tanah Air Itu Bhinneka”

Poso, 20 Juli 2026 – Bupati Kabupaten Poso secara resmi membuka kegiatan Live-in Interfaith “Tanah Air Itu Bhinneka” yang diselenggarakan di Gereja Renindaya, Lambomawo, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Kegiatan yang berlangsung selama sepekan, 19–25 Juli 2026, menjadi ruang perjumpaan lintas iman untuk memperkuat persaudaraan, memperluas pemahaman tentang keberagaman, serta meneguhkan komitmen bersama dalam merawat toleransi dan perdamaian di Indonesia.

Kegiatan ini turut diikuti oleh peserta dari berbagai latar belakang agama dan organisasi kepemudaan, termasuk perwakilan umat Buddha yang tergabung dalam Generasi Muda Buddhis Indonesia (GEMABUDHI). Kehadiran peserta GEMABUDHI menjadi bagian penting dalam memperkuat semangat kolaborasi lintas iman dan menunjukkan peran aktif pemuda Buddhis dalam membangun persaudaraan kebangsaan.

Dalam sambutannya, Bupati Poso menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama Panitia Nasional yang telah mempercayakan Kabupaten Poso sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan tersebut.Menurutnya, kepercayaan tersebut merupakan suatu kehormatan sekaligus menjadi penguat bagi masyarakat Poso dalam menjaga dan merawat nilai-nilai perdamaian yang telah dibangun bersama.

“Kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Poso untuk menjadi tempat pelaksanaan Live-in Interfaith ‘Tanah Air Itu Bhinneka’. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa Poso terus bertumbuh sebagai daerah yang mengedepankan semangat persaudaraan, toleransi, dan hidup berdampingan dalam keberagaman,” ujar Bupati Poso.

Bupati menegaskan bahwa kegiatan lintas iman seperti Live-in Interfaith memiliki makna penting dalam membangun sikap saling menghormati di tengah keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Melalui kebersamaan yang dibangun selama kegiatan berlangsung, para peserta tidak hanya diajak untuk memahami perbedaan, tetapi juga menghidupi nilai-nilai toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Live-in Interfaith bukan sekadar agenda seremonial, melainkan menjadi ruang pembelajaran bersama sekaligus pengingat bagi seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persatuan bangsa. Semangat Bhinneka Tunggal Ika harus diwujudkan melalui tindakan nyata, dialog, dan kolaborasi lintas agama demi terciptanya kehidupan yang damai dan harmonis.

Pemerintah Kabupaten Poso, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung berbagai kegiatan lintas iman sebagai bagian dari upaya memperkuat kerukunan dan menjaga kedamaian daerah. Komitmen tersebut diwujudkan melalui sinergi bersama TNI, Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat dalam menciptakan suasana yang aman, damai, dan kondusif.

Mengakhiri sambutannya, Bupati berharap seluruh peserta dapat mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh semangat, saling menghargai, membangun persahabatan, serta membawa pulang pengalaman berharga yang dapat menjadi inspirasi untuk terus menyebarkan nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan perdamaian di daerah masing-masing.

Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Bupati Kabupaten Poso secara resmi membuka kegiatan Live-in Interfaith “Tanah Air Itu Bhinneka”. Kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak positif bagi penguatan kerukunan umat beragama serta semakin memperkokoh persatuan bangsa Indonesia.

GEMABUDHI Hadirkan Semangat Pemuda Buddhis dalam Perjumpaan Lintas Iman. Sementara itu, dua peserta yang mewakili umat Buddha, Ryan dan Sabdo, mengaku bersyukur dan antusias dapat menjadi bagian dari kegiatan Live-in Interfaith “Tanah Air Itu Bhinneka”.

Menurut keduanya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan berharga bagi para pemuda dari berbagai latar belakang untuk belajar secara langsung mengenai kehidupan dalam keberagaman, memperluas wawasan lintas iman, sekaligus mempererat persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

“Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang sangat berharga. Kami dapat belajar langsung dari pengalaman, kehidupan, dan perspektif teman-teman dari berbagai agama. Dari sinilah kami memahami bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama,” ungkap Ryan.

Ryan yang juga menjabat sebagai Ketua GEMABUDHI Kota Tangerang Selatan, menyampaikan bahwa keikutsertaan pemuda Buddhis dalam kegiatan lintas iman merupakan bagian dari kontribusi nyata generasi muda dalam memperkuat persaudaraan kebangsaan.

Ia mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai ruang belajar yang bermakna serta membangun jejaring persahabatan yang dapat terus berlanjut setelah kegiatan berakhir.

“Kegiatan ini merupakan ruang belajar yang luar biasa. Ikutilah setiap proses dengan hati yang terbuka, pikiran yang jernih, dan kemauan untuk menghargai setiap perbedaan. Mari manfaatkan kesempatan emas selama 19–25 Juli 2026 ini untuk menyerap nilai-nilai toleransi, membangun jejaring persahabatan yang kokoh, serta mempersiapkan diri menjadi agen perubahan yang mampu merekatkan keberagaman bangsa,” ujar Ryan.

Senada dengan itu, Sabdo berharap pengalaman yang diperoleh selama kegiatan tidak berhenti sebagai kenangan semata, melainkan menjadi bekal bagi para peserta untuk terus menumbuhkan semangat dialog, kerja sama, dan kepedulian antarumat beragama.

Ia meyakini bahwa perdamaian akan semakin kuat apabila dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.

“Perdamaian tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perdamaian dimulai dari kesediaan untuk duduk bersama, mendengarkan, memahami, dan menghargai satu sama lain. Inilah nilai penting yang kami harapkan dapat terus dibawa pulang dan diterapkan setelah kegiatan ini selesai,” ujar Sabdo.Keikutsertaan perwakilan GEMABUDHI dalam Live-in Interfaith “Tanah Air Itu Bhinneka” menjadi wujud nyata komitmen pemuda Buddhis untuk terus mengambil bagian dalam gerakan merawat toleransi, memperkuat dialog lintas iman, serta membangun persaudaraan kebangsaan.

Melalui perjumpaan dan pengalaman bersama tersebut, para peserta diharapkan mampu menjadi agen perdamaian yang membawa semangat toleransi, inklusivitas, dan persaudaraan ke daerah asal masing-masing.Dari Poso, semangat “Tanah Air Itu Bhinneka” kembali diteguhkan: bahwa keberagaman bukan sekadar kenyataan bangsa Indonesia, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama oleh seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda lintas iman dan organisasi kepemudaan seperti GEMABUDHI.

About the Author

Leave a Reply

You may also like these